Beranda » Advokasi dan Pendidikan Rakyat » Kesenjangan Sosial dan Ekonomi Penyebab Munculya Kekerasan Pluraslisme
Senin, 20 September 2010 - 16:52:02 WITA

Kesenjangan Sosial dan Ekonomi Penyebab Munculya Kekerasan Pluraslisme

Posted : Mardin
Dibaca: 2 kali

JAKARTA – Plurasme merupakan suatu perbedaan yang harus dapat diterima oleh siapa pun. Bahkan saat ini tindakan kekerasan pluralisme sudah lebih dari 291 kasus bahkan bisa mencapai 300 an lebih kasus kekerasan karena tindakan kekerasan terhadap kaum Syiah belum dimasukkan ke dalam kasus ini. Demikian diungkapkan Prof. Jallaludin Rahmat seorang Cendikiawan Muslim, yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi publik bertajuk “Pluralisme dalam Ancaman Kekerasan”, di Jakarta pada Kamis (29/4/10)Menurutnya, bahwa kekerasan pluralisme itu muncul akibat dari beberapa hal, diantaranya adanya kesenjangan sosial, ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi dan perbedaan pendapat diantara kelompok-kelompok agama yang ada. Kaum Syiah di daerah Jawa Timur, masih ditemukan tindakan kekerasan terhadap kaum Syiah tersebut, di daerah yang mayoritas penduduknya merupakan penganut NU, kata Jallaludin mengumpamakan. “Negara saat ini melakukan pembiaran terjadinya suatu tindakan kekerasan terhadap kelompok-kelompok tertentu (minoritas) dalam hal ini kelompok yang berbeda pandangan dengan kelompok mayoritas. Mestinya mengatur hal ini“, kata profesor psikologi ini. Jalalludin mengakui cukup pesimis perkembangan pluralisme di Indonesia, dikarenakan berdasarkan data penelitian bahwa kelompok radikal semakin banyak akibat dari politisasi. “Artinya sekarang kelompok-kelompok agama muncul sebagai kelompok politik, seperti PKS, PKB dan sebagainya dan mereka menggunakan isu agama itu untuk politik, jadi ada unsur atau asas manfaat, ujar Jalalludin. Sementara Slamet Effendi (Ketua Nahdlatul Ulama), yang juga salah satu pembicara dalam diskusi terseubut mengatakan pimpinan NU merupakan pembuat kebebasan beribadat dan pencetus kebebasan dan kemerdekaan atas kaum minoritas khususnya Kong Hu Cu dahulu, katanya, tanpa ia menyebutkan KH. Abdurahman Wahid (alm.Gusdur) secara tersirat. Dimana kaum minoritas (Kong HU CU) dan Tionghoa di negeri ini, dalam melakukan kegiatan beribadahnya yang kita tahu selama masa orde baru selalu dilarang. Dan semua itu berkat masa kepemimpinan NU. “Bagi NU, NKRI sudah final“,ungkap Ketua Nahdlatul Ulama ini. sumber : http://www.forum-ngo.com

0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama
Website
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)