Beranda » Artikel » Cendekiawan Muda untuk Peradaban Kontribusi
Selasa, 30 Agustus 2011 - 08:25:25 WITA

Cendekiawan Muda untuk Peradaban Kontribusi

Posted : Mardin
Dibaca: 2 kali

Tak adanya sesuatu yang immortalitas dan kesenantiasaan terjadinya perubahan dan pergantian adalah sesuatu yang inheren pada dunia. Hal yang berfluktuasi dan berketetapan dalam perubahan itu, kemudian memudar dan setelah itu mati adalah kejadian yang tak terpisahkan pada eksistensi alam ini.
Akankah kaum cendekiawan mengalami keadaan seperti itu ? Apakah rentang waktu membatasi keberadaannya, dan bila masa itu telah lewat kaum cendekiawan pun akan berakhir. Atau sebaliknya, bahwa ia akan tetap lestari ditengah-tengah manusia, tidak tergoyahkan dan terhempaskan oleh ketercabutan ideologi lain yang mengumumkan penentangan terhadapnya.
Cendekiawan sendiri adalah kaum terpelajar yang menempati kedudukan elit dalam tatanan struktur masyarakat. Dipandang elit karena penanggung gelar cendekiawan adalah orang yang telah teruji pengalaman pendidikan, pemikiran(ide), dan kredibilitas ilmiahnya. Lantas, apakah dengan pengalaman pendidikan, ide, dan pengetahuan ilmiah cendekiawan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat ?
Di sini kemudian muncul apa yang disebut dengan ideologi cendekiawan. Ali Syari'ati, cendekiawan dan pemikir kontemporer Islam, lewat bukunya Ideologi Kaum Intelektual Suatu Wawasan Islam memahami, ideologi bukanlah gagasan menggebu yang selalu menggoda kaum muda untuk berbuat sesuatu yang mengorbankan diri. Ideologi cendekiawan lebih pada pengubahan status quo (anti kemapanan).
Kaum cendekiawan adalah rausyanfikr, kata Ali Syari'ati. Kaum intelektual yang tidak diukur oleh kemampuan dalam menggondol gelar kesarjanaan atau sekadar sibuk mendalami ilmu dan mengadakan penelitian, tetapi kaum intelektual yang berpijak pada ideologi yang dipilihnya secara sadar, yaitu ideologi  yang bertujuan untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasinya, membela kaum tertindas, dan menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.
Dalam percaturan intelektual muslim, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menempati garda terdepan. Peran dan posisinya sangat strategis karena terlepas dari kooptasi `golongan Muslim' manapun. ICMI dapat bergerak leluasa, independen, tapi memiliki sumber daya intelektual yang kaya yang bersumber dari banyak golongan. Bahkan, ICMI pun menelorkan benih-benih intelektual muda yang bernama Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI.
Kendati namanya tidak ICMI Muda, tapi secara historis, Masika ICMI adalah anak kandung ICMI. ICMI didirikan 6 Desember 1990 dalam sebuah simposium nasional cendekiawan Muslim yang dilanjutkan dengan muktamar I ICMI di Kampus Universitas Brawijaya, Malang, Jatim. Masika ICMI secara resmi dilahirkan tiga tahun kemudian, tepatnya 8 Oktober 1993 di Cisarua Bogor. Masika lahir melalui sebuah pertemuan nasional (PERNAS) I yang digelar ICMI Pusat.
Selain wadah kaderisasi ICMI, Masika ICMI pun merupakan tink tank-nya ICMI dalam meraup pemikiran-pemikiran yang jernih dari para cendekiawan muda. Dalam konteks kemajemukan fenomena yang berkembang, baik dalam kehidupan internasional maupun nasional, diperlukan pemikiran yang kaya. Berliannya hasil pemikiran cendekiawan Muslim dalam ICMI akan makin tajam jika dipoles dengan pemikiran yang jernih, energik, dan inovatif dari para pemikir muda dari Masika ICMI.
Momen ini merupakan momen penting untuk menguatkan kembali komitmen para cendekiawan muda guna menyumbangkan pemikirannya yang lebih realistis dan dapat menjadi problem solving. Selama ini, cendekiawan muda di Masika ICMI terkesan elitis. Buah pemikiran mereka hanya menjadi fouding bagi ICMI atau pun beredar di kalangan mereka sendiri. Hal itu telah menjebak para cendekiawan muda Masika ICMI pada kubangan `kecerdasan introper'. Padahal pada realitas lain, masyarakat mengiba lahirnya buah pemikiran yang cerdas dan jernih guna menyelamatkan nasib mereka dari keterpurukan.
Pemaknaan yang mendalam terhadap peran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi umat manusia telah menginspirasi lahirnya sebuah kesadaran yang mendalam tentang tugas dan peran kesejarahan Masika, pembawa rahmat bagi kemanusiaan yang abadi. Tidak ada makna bagi kehadiran sosial manusia, kecuali dapat memberikan rahmat bagi masyarakat sekitarnya. Itulah perspektif distribusi rahmat yang menjadi bangunan kesadaran manusia dalam proses perumusan tugas dan peran Masika ke depan.
Peradaban Kontribusi
Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orwil Sul-Sel sebagai salah satu komunitas komponen masyarakat memiliki kekuatan berupa orientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang luhur. Keberadaan  Masika ICMI adalah lintas wilayah, ruang, dan waktu, dimana anggota terdiri atas mereka yang memiliki berbagai disiplin ilmu dan profesi, perlu untuk memberikan inisiatif solusi dan pemahaman kritis, maka peran kepemudaan haruslah diefektifkan karena disadari pemikiran yang menghiasi perubahan atas nama spirit zaman.
Dalam banyak tempat kesadaran mengilhami kemajuan dan kematangan untuk bertindak. Wujud kesadaran dalam banyak tempat telah mengambil porsi yang cukup signifikan. Kesadaran yang dipahami sebagai penemuan kembalinya manusia dari titik asalnya. Inilah mengilhami lahirnya bentuk pemihakan pada doktrin ke-Tauhid-an.
Kenyataannya betapa Prinsip Tauhid meng-integrasikan pengetahuan dan tindakan manusia ke dalam sebuah kesatuan yang harmonis dalam tatanan wujud sosial kemasyarakatan. Integrasi pada tingkat pemikiran sendiri dicapai melalui aplikasi gagasan tentang kesatuan hirarki pengetahuan. Setiap jenis pengetahuan lain harus berhubungan secara organik dengan pengetahuan ke-Tauhid-an. Sementara pada tingkat aksi, integrasi dicapai melalui aplikasi syari'ah.
Banyak sekali orang-orang bersahaja yang boleh jadi tidak ada di front terdepan dalam amal-amal kebaikan, mereka hanya ada di sudut ruangan, mereka mengamati saja, tetapi merekalah yang menyediakan segala sesuatunya agar orang lain dapat beramal kebaikan itu dengan sempurna. Ketika Osman Bakar meyakini bahwa hukum keseimbangan antar manusia adalah sebuah anugerah Tuhan yang paling besar sehingga mampu menghindarkan alam semesta dari kehancurannya. Maka sebisa mungkin Masika menjadi gerakan penyeimbang. Mencoba memposisikan diri sebagai unsur perekat, The Match Maker.  Dalam posisi ini, bertujuan untuk mencegah atau minimal mengurangi bentuk perbedaan atau konflik yang berujung pada permusuhan sekaligus menyatukan berbagai potensi yang ada menjadi sebuah kekuatan yang saling mendukung dan bersinergi. Kita bisa menyaksikan dalam berbagai situasi sulit, banyak individu atau anggota kelompok, yang dengan rela mengorbankan waktu dan spiritnya demi tercapainya tujuan dengan penuh kerelaan hati tanpa tekanan.
Apa pun posisi kita, sekalipun kita berada dalam situasi memberi nafkah, kita bisa belajar untuk mengundang kemurahan hati orang lain. Kita sebenarnya bisa mengganti mindset dengan berpikir bahwa kita sedang dikelilingi para volunteer. Kita bisa berlatih lebih banyak membuat request daripada memerintah. Kita perlu meyakini bahwa membangun hubungan penuh rasa percaya lebih powerful daripada membuat hierarki dan struktur politik. Secara otomatis, kerendahan hati justru menciptakan power dalam bentuk lain.
Tak ada yang salah menjadi manusia yang lebih dikenal langit, daripada manusia yang dikenal oleh bumi. Manusia yang harum namanya di hati banyak manusia lain, bukan manusia yang harum dalam peristiwa-peristiwa sejarah. Sementara untuk saya, menulis ajakan-ajakan ini adalah cara saya untuk menyemangati Masika. Lantas, apakah Masika mampu berkontribusi atas pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan serta memperdalam pemaknaan kehidupan ?  Mampukah, Masika  mampu meretas jalan kesejarahan sendiri lewat khasanah peradaban kontribusi ? Pada akhirnya tingkat implementasi dan aksi-aksi kolektif manusia menjadi butir-butir pasir yang dapat menyusun pondasi kokoh sebuah bangunan kesadaran. Kesadaran yang dipahami sebagai penemuan kembalinya manusia dari titik asalnya.

Salama'ki.

Oleh : Wahyuddin Junus
Penggiat Diskusi Masika ICMI

sumber : tribunnews.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama
Website
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)