Cendekiawan Muda untuk Peradaban Kontribusi
Dibaca: 2 kali
Tak adanya sesuatu yang immortalitas dan kesenantiasaan terjadinya
perubahan dan pergantian adalah sesuatu yang inheren pada dunia. Hal
yang berfluktuasi dan berketetapan dalam perubahan itu, kemudian memudar
dan setelah itu mati adalah kejadian yang tak terpisahkan pada
eksistensi alam ini.
Akankah kaum cendekiawan mengalami keadaan
seperti itu ? Apakah rentang waktu membatasi keberadaannya, dan bila
masa itu telah lewat kaum cendekiawan pun akan berakhir. Atau
sebaliknya, bahwa ia akan tetap lestari ditengah-tengah manusia, tidak
tergoyahkan dan terhempaskan oleh ketercabutan ideologi lain yang
mengumumkan penentangan terhadapnya.
Cendekiawan sendiri adalah kaum
terpelajar yang menempati kedudukan elit dalam tatanan struktur
masyarakat. Dipandang elit karena penanggung gelar cendekiawan adalah
orang yang telah teruji pengalaman pendidikan, pemikiran(ide), dan
kredibilitas ilmiahnya. Lantas, apakah dengan pengalaman pendidikan,
ide, dan pengetahuan ilmiah cendekiawan tersebut dapat
dipertanggungjawabkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat ?
Di
sini kemudian muncul apa yang disebut dengan ideologi cendekiawan. Ali
Syari'ati, cendekiawan dan pemikir kontemporer Islam, lewat bukunya
Ideologi Kaum Intelektual Suatu Wawasan Islam memahami, ideologi
bukanlah gagasan menggebu yang selalu menggoda kaum muda untuk berbuat
sesuatu yang mengorbankan diri. Ideologi cendekiawan lebih pada
pengubahan status quo (anti kemapanan).
Kaum cendekiawan adalah
rausyanfikr, kata Ali Syari'ati. Kaum intelektual yang tidak diukur oleh
kemampuan dalam menggondol gelar kesarjanaan atau sekadar sibuk
mendalami ilmu dan mengadakan penelitian, tetapi kaum intelektual yang
berpijak pada ideologi yang dipilihnya secara sadar, yaitu ideologi
yang bertujuan untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasinya,
membela kaum tertindas, dan menawarkan strategi dan alternatif pemecahan
masalah.
Dalam percaturan intelektual muslim, Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI) menempati garda terdepan. Peran dan posisinya
sangat strategis karena terlepas dari kooptasi `golongan Muslim'
manapun. ICMI dapat bergerak leluasa, independen, tapi memiliki sumber
daya intelektual yang kaya yang bersumber dari banyak golongan. Bahkan,
ICMI pun menelorkan benih-benih intelektual muda yang bernama Majelis
Sinergi Kalam (Masika) ICMI.
Kendati namanya tidak ICMI Muda, tapi
secara historis, Masika ICMI adalah anak kandung ICMI. ICMI didirikan 6
Desember 1990 dalam sebuah simposium nasional cendekiawan Muslim yang
dilanjutkan dengan muktamar I ICMI di Kampus Universitas Brawijaya,
Malang, Jatim. Masika ICMI secara resmi dilahirkan tiga tahun kemudian,
tepatnya 8 Oktober 1993 di Cisarua Bogor. Masika lahir melalui sebuah
pertemuan nasional (PERNAS) I yang digelar ICMI Pusat.
Selain wadah
kaderisasi ICMI, Masika ICMI pun merupakan tink tank-nya ICMI dalam
meraup pemikiran-pemikiran yang jernih dari para cendekiawan muda. Dalam
konteks kemajemukan fenomena yang berkembang, baik dalam kehidupan
internasional maupun nasional, diperlukan pemikiran yang kaya.
Berliannya hasil pemikiran cendekiawan Muslim dalam ICMI akan makin
tajam jika dipoles dengan pemikiran yang jernih, energik, dan inovatif
dari para pemikir muda dari Masika ICMI.
Momen ini merupakan momen
penting untuk menguatkan kembali komitmen para cendekiawan muda guna
menyumbangkan pemikirannya yang lebih realistis dan dapat menjadi
problem solving. Selama ini, cendekiawan muda di Masika ICMI terkesan
elitis. Buah pemikiran mereka hanya menjadi fouding bagi ICMI atau pun
beredar di kalangan mereka sendiri. Hal itu telah menjebak para
cendekiawan muda Masika ICMI pada kubangan `kecerdasan introper'.
Padahal pada realitas lain, masyarakat mengiba lahirnya buah pemikiran
yang cerdas dan jernih guna menyelamatkan nasib mereka dari
keterpurukan.
Pemaknaan yang mendalam terhadap peran Nabi Muhammad
SAW sebagai rahmat bagi umat manusia telah menginspirasi lahirnya sebuah
kesadaran yang mendalam tentang tugas dan peran kesejarahan Masika,
pembawa rahmat bagi kemanusiaan yang abadi. Tidak ada makna bagi
kehadiran sosial manusia, kecuali dapat memberikan rahmat bagi
masyarakat sekitarnya. Itulah perspektif distribusi rahmat yang menjadi
bangunan kesadaran manusia dalam proses perumusan tugas dan peran Masika
ke depan.
Peradaban Kontribusi
Majelis Sinergi Kalam (Masika)
ICMI Orwil Sul-Sel sebagai salah satu komunitas komponen masyarakat
memiliki kekuatan berupa orientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan
peradaban yang luhur. Keberadaan Masika ICMI adalah lintas wilayah,
ruang, dan waktu, dimana anggota terdiri atas mereka yang memiliki
berbagai disiplin ilmu dan profesi, perlu untuk memberikan inisiatif
solusi dan pemahaman kritis, maka peran kepemudaan haruslah diefektifkan
karena disadari pemikiran yang menghiasi perubahan atas nama spirit
zaman.
Dalam banyak tempat kesadaran mengilhami kemajuan dan
kematangan untuk bertindak. Wujud kesadaran dalam banyak tempat telah
mengambil porsi yang cukup signifikan. Kesadaran yang dipahami sebagai
penemuan kembalinya manusia dari titik asalnya. Inilah mengilhami
lahirnya bentuk pemihakan pada doktrin ke-Tauhid-an.
Kenyataannya
betapa Prinsip Tauhid meng-integrasikan pengetahuan dan tindakan manusia
ke dalam sebuah kesatuan yang harmonis dalam tatanan wujud sosial
kemasyarakatan. Integrasi pada tingkat pemikiran sendiri dicapai melalui
aplikasi gagasan tentang kesatuan hirarki pengetahuan. Setiap jenis
pengetahuan lain harus berhubungan secara organik dengan pengetahuan
ke-Tauhid-an. Sementara pada tingkat aksi, integrasi dicapai melalui
aplikasi syari'ah.
Banyak sekali orang-orang bersahaja yang boleh
jadi tidak ada di front terdepan dalam amal-amal kebaikan, mereka hanya
ada di sudut ruangan, mereka mengamati saja, tetapi merekalah yang
menyediakan segala sesuatunya agar orang lain dapat beramal kebaikan itu
dengan sempurna. Ketika Osman Bakar meyakini bahwa hukum keseimbangan
antar manusia adalah sebuah anugerah Tuhan yang paling besar sehingga
mampu menghindarkan alam semesta dari kehancurannya. Maka sebisa mungkin
Masika menjadi gerakan penyeimbang. Mencoba memposisikan diri sebagai
unsur perekat, The Match Maker. Dalam posisi ini, bertujuan untuk
mencegah atau minimal mengurangi bentuk perbedaan atau konflik yang
berujung pada permusuhan sekaligus menyatukan berbagai potensi yang ada
menjadi sebuah kekuatan yang saling mendukung dan bersinergi. Kita bisa
menyaksikan dalam berbagai situasi sulit, banyak individu atau anggota
kelompok, yang dengan rela mengorbankan waktu dan spiritnya demi
tercapainya tujuan dengan penuh kerelaan hati tanpa tekanan.
Apa pun
posisi kita, sekalipun kita berada dalam situasi memberi nafkah, kita
bisa belajar untuk mengundang kemurahan hati orang lain. Kita sebenarnya
bisa mengganti mindset dengan berpikir bahwa kita sedang dikelilingi
para volunteer. Kita bisa berlatih lebih banyak membuat request daripada
memerintah. Kita perlu meyakini bahwa membangun hubungan penuh rasa
percaya lebih powerful daripada membuat hierarki dan struktur politik.
Secara otomatis, kerendahan hati justru menciptakan power dalam bentuk
lain.
Tak ada yang salah menjadi manusia yang lebih dikenal langit,
daripada manusia yang dikenal oleh bumi. Manusia yang harum namanya di
hati banyak manusia lain, bukan manusia yang harum dalam
peristiwa-peristiwa sejarah. Sementara untuk saya, menulis ajakan-ajakan
ini adalah cara saya untuk menyemangati Masika. Lantas, apakah Masika
mampu berkontribusi atas pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan serta
memperdalam pemaknaan kehidupan ? Mampukah, Masika mampu meretas
jalan kesejarahan sendiri lewat khasanah peradaban kontribusi ? Pada
akhirnya tingkat implementasi dan aksi-aksi kolektif manusia menjadi
butir-butir pasir yang dapat menyusun pondasi kokoh sebuah bangunan
kesadaran. Kesadaran yang dipahami sebagai penemuan kembalinya manusia
dari titik asalnya.
Salama'ki.
Oleh : Wahyuddin Junus
Penggiat Diskusi Masika ICMI
sumber : tribunnews.com
0 Komentar :
Isi Komentar :




Pengunjung hari ini : 33
Total pengunjung : 39936
Pengunjung Online: 0