Beranda » Artikel » Mencari Sintesa Dialektika Sejarah Bangsa
Isi Komentar :
Minggu, 21 Agustus 2011 - 12:25:17 WITA
Mencari Sintesa Dialektika Sejarah Bangsa
Posted : Mardin
Dibaca: 2 kali
Dibaca: 2 kali
Oleh: M. Tahir Kasnawi (Pemerhati Sosial Politik)
Dialektika tanpa Sintesa Sejarah
Alhamdulillah, Bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Ulang
Tahun Proklamasi Kemedekaan RI yang ke-66, 17 Agustus 2011, yang
kebetulan bersamaan dengan bulan suci Ramadan 1432 H. Menurut sejarah,
ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Sukarno-Hatta tanggal
17 Agustus 1945, juga bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Mudah-mudahan ulangan kesamaan peristiwa tersebut akan membawa hikmah
bagi bangsa kita, terutama untuk mengeluarkan bangsa dari berbagai
masalah kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang silih berganti datang
menimpa.
Memang terasa ada paradoks kehidupan bangsa Indonesia dalam
usianya yang sudah 66 tahun ini. Dalam negeri yang kaya raya dengan
sumber daya alam ini, masih amat banyak rakyat Indonesia yang hidup
dalam keterbelakangan multi dimensi. Dalam negeri di mana semua kekayaan
bumi yang diturunkan tuhan ke alam, semuanya dapat ditemukan disini,
masih puluhan juta penduduk yang hidup dalam kemiskinan, pengangguran,
pendidikan dan kesehatan yang buruk. Kondisi ini diperparah oleh
berbagai konflik-konflik sosial serta suasana ketidaktenteraman dalam
kehidupan sehari-hari. Tidak salah bila Mantan Presiden Habibie
mengatakan, “Indonesia adalah negeri yang kaya raya, namun penduduknya
miskin. Atau seperti yang dikemukakan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin
Limpo, bahwa orang Indonesia tidak layak hidup miskin, dengan melihat
kekayaan tanah airnya.
Namun kenyataannya masih banyak mengecewakan. Hingga sangat banyak
tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang yang mengungkapkan rasa
prihatin dan kekecewaannya atas nasib kehidupan bangsa dewasa ini. Apa yang salah?
Pertanyaan ini rasanya selalu menggelitik kita setiap memperingati
hari proklamasi kemerdekaan seperti sekarang ini. Ya, apa yang salah
dalam kehidupan bangsa yang seperti ini. Mungkin salah satu jawaban yang
bisa didiskusikan ialah, bahwa bangsa dan negara kita selama ini selalu
mengalami “salah urus” atau “mismanagement.”
Kita bisa saja mengembalikannya kepada takdir Tuhan, atau bahkan
menyalahkan rakyat itu sendiri, tetapi kesemuanya menurut hemat kami
bermuara ke masalah management bangsa, dan lebih spesifik lagi, masalah
kepemimpinan nasional. Sebab inti managemen adalah masalah kepemimpinan
(leadership). Selama hampir tujuh dasawarsa kemerdekaan, rasanya
bangsa dan negara yang kaya raya ini belum pernah dikelola atau diurus
secara amanah dan efektif. Buktinya, era demi era pemerintahan berganti
secara tidak sehat, melainkan melalui gerakan penumbangan langsung oleh
rakyat. Orde Lama (Orla) ditumbangkan Orde Baru dengan gerakan Angkatan
66, selanjutnya Orba ditumbangkan Orde Reformasi melalui gerakan
mahasiswa 98. Orde Reformasi entah kapan dan oleh siapa lagi akan
ditumbangkan.
Dialektika tanpa Sintesa Sejarah
Pergantian resim pemerintahan dari yang satu kepada yang
berikutnya merupakan hal yang sangat lumrah dan alamiah dalam sebuah
negara demokrasi seperti Indonesia. Persoalannya ialah ketika pergantian
tersebut berlangsung tidak normal, bahkan dalam suasana konfrontatif
yang dibarengi berbagai bentuk kekerasan, seperti yang disinggung di
atas. Proses ini kemudian akan berkembang dan menghadirkan kondisi
kehidupan bangsa dengan kebijakan-kebijakan yang kurang berpihak kepada
peningkatan kesejahteraan dan keadilan masyarakat, karena pada tubuh
kepemimpinan nasional, dan dalam beberapa hal juga merembet ke
kepemimpinan daerah, secara gradual akan berkembang semangat penumpukan
kekuasaan hegemonik. Yang terjadi adalah semangat pembangunan dan
konsolidasi politik kekuasaan (machtvorming dan macht anwending).
Dalam literatur Sosiologi Pembangunan dikenal adanya teori
yang menjelaskan berlangsungnya perubahan sosial (melalui pembangunan)
dengan proses yang dialektis. Yakni bahwa perubahan sosial yang
produktif dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah
perubahan berdasarkan hasil penyesuaian (sintesa) antara kondisi-kondisi
ataupun orientasi kebijakan yang berbeda, bahkan bertentangan. Secara
popular, proses ini dikenal dengan perubahan sosial melalui proses
“Thesa – Anti Thesa, dan Synthesa”.
Pasca kemerdekaan RI, terutama sejak Dekrit Presiden 5 Juli
1959 yakni diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
dasar negara, Indonesia berada dalam sistem pemerintahan Orde Lama di
bawah Presiden Sukarno. Orientasi kehidupan bangsa lebih difokuskan pada
nation and character building. Orientasi ini mengutamakan pada
kebijakan pemerintahan untuk membangun bangsa yang memiliki “kebanggaan
nasional” tinggi di tengah-tengah masyarakat dunia. Dan bangsa Indonesia
di bawah kepemimpinan Bung Karno yang sangat piawai berpidato waktu
itu, memang berhasil membawa Indonesia kepanggung dunia dengan berbagai
bentuk kepeloporan internasional, seperti Konferensi Asia Afrika,
Gerakan Non-Blok, Ganefo, dan sebagainya. Nama Bung Karno harum di
mana-mana, terutama di kalangan negara-negara sosialis. Dan rakyat
Indonesia, ikut merasa bangga sebagai Bangsa Indonesia waktu itu,
meskipun dalam kondisi kehidupan yang masih miskin-miskin, terutama
dalam hal tingkat penghasilan dan pendidikan. Lama kelamaan orientasi
kehidupan bangsa mengarah ke situasi yang makin menyengsarakan sebagian
besar rakyat, dan di lain pihak sistem pemerintahan makin bernuansa
kultus individu terhadap Bung Karno, serta makin jauh dari semangat
demokrasi sesuai amanah Pancasila dan UUD 45. Dalam kondisi ini dapat
dikatakan sistem pemerintahan Orde Lama telah menjelma menjadi sebuah
Thesa yang mencengkeram kehidupan bangsa Indonesia dalam kurun waktu
yang relatif lama.
Maka muncul berbagai gerakan ketidakpuasan di kalangan
masyarakat di bawah koordinasi tokoh-tokoh yang tidak sejalan dengan
orientasi kepemimpinan Bung Karno. Terutama tokoh-tokoh yang
berseberangan dengan ideologi sosialis komunis yang waktu itu terasa
begitu berpengaruh terhadap garis kebijakan pemerintah serta
pemikiran-pemikian Bung Karno sendiri. Apa yang diperjuangkan oleh
tokoh-tokoh “opposan” tersebut merupakan Anti-Thesa terhadap Thesa yang
terbangun dalam Orde Lama. Dan titik baliknya terjadi ketika meletus
peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) yang dipelopori oleh Partai
Komunis Indonesia (PKI). Kekuasaan pemerintahan yang dibangun Bung Karno
sekian lama dengan Thesa kebijakan sosial ekonominya., akhirnya
ditumbangkan oleh Gerakan massal Angkatan 66, yang kemudian melahirkan
Resim Pemerintahan Baru yang menamakan diri Orde Baru. Secara sistematik
dalam awal-awal kekuasaan resim baru tersebut., terjadi gerakan
pembersihan terhadap sisa-sisa pengaruh orde lama. Semboyan yang
ditonjolkan waktu itu ialah bahwa Orde Baru melakukan “koreksi total”
terhadap Orde Lama, baik struktur maupun kebijakan-kebijakannya. Bung
Karno sendiri, setelah itu, kemudian diisolasi dari masyarakat umum, dan
akhirnya wafat bulan Juni 1970 dalam status sebagai “Tahanan Rumah”.
Di sini kita dapat mengatakan, bahwa kehadiran orde Baru
menumbangkan Orde Lama dapat dilihat sebagai kehadiran sebuah Anti Thesa
untuk menghapuskan sebuah Thesa, tanpa memunculkan Sintesa. Sehungga
selama Orrde Baru semua unsur-unsur yang dianggap “berbau” orde lama,
disingkirkan dari tengah-tengah kehidupan Negara. Sistem dan kebijakan
pemerintahan Negara dimulai kembali ditata “dari awal”, dengan orientasi
yang tentu saja juga berbalik 180 derajat.
sumber : fajar.co.id
sumber : fajar.co.id
0 Komentar :
Isi Komentar :




Pengunjung hari ini : 33
Total pengunjung : 39936
Pengunjung Online: 0