FKUB Meminta Negara Memperkuat Budaya Fluralisme
Dibaca: 2 kali
Forum Kerukunan Antar-Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan (Sulsel)
meminta negara memperkuat budaya pluralisme dalam kehidupan
bermasyarakat bangsa ini.
Ketua FKUB Sulsel, Prof. Dr. Qasim
Mathar menyampaikan hal ini dalam dialog kebangsaan dalam rangka
refleksi Hari Kebangkitan Nasional Ke-103 dengan tema "Syariat Islam,
Pluralitas dan NKRI" di Makassar, Rabu.
Guru Besar
Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar ini menyatakan sebagai negara
yang dihuni beragam suku bangsa, agama, dan paham ideologi lainnya
dibutuhkan kebijakan yang bisa memperkuat negara dengan mengembangkan
budaya "pluralitas rasism".
"Selama NKRI (Negara Kesatuan
RI) carumarut, maka syariat Islam, NII, khilafah dan paham-paham serupa
dengan itu akan selalu menarik bagi para pendukungnya," ujarnya.
Singapura tidak pernah ribut dengan ideologinya. Malaysia juga tidak pernah ribut. Begitu pula dengan Amerika, ucap dia.
Negara-negara di Eropa, Inggris dan Amerika telah mengubah ideologi
negaranya karena mereka sudah sejahtera. Makanya tidak heran jika
negara mereka tidak lagi meributkan wacana perubahan model negaranya.
"Negara-negara itu sangat beda dengan negara kita. Perdebatan
ideologi negara-negara itu tidak menjadi agenda penting. Beda dengan di
Indonesia," kata dia.
Dalam dialog itu, dia menyayangkan
masih banyaknya konflik perbedaan pemahaman yang menyebabkan terjadinya
pertumpahan darah seperti kasus yang menimpa Ahmadiyah.
"Siapa pun yang mengusung paham selain pilihan NKRI, harus bisa menerima
kenyataan pluralitas dan isme-isme lainnya. Kita harus hargai aliran
lainnya termasuk Ahmadiyah. Jangan tumpahkan darah mereka," ucap dia.
Menurut dia, masih banyak orang baik di negeri ini seperti
pengusaha, militer, budayawan hingga kelompok-kelompok lainnya yang bisa
mengurus negeri ini hanya saja mereka tidak pernah diekspose.
"Mari kita mencari orang-orang itu dan sinergikan semua pemikiran
mereka untuk membangun negeri ini. Tetapi kalau negara ini ingin
dibagi-bagi silahkan pelihara perbedaan-perbedaan itu," ujar dia.
Akademisi dari Universitas Hasanuddin, Drs Nunding Ram, MEd dalam
diskusi itu juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, manusia tidak
ada yang sempurna. "Kesempurnaan itu ada dalam sila Pancasila yakni
Ketuhanan Yang Maha Esa,".
Pengurus Komite Perjuangan
Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Sulsel ini mengaku negara ini sudah
diambang "sakratul maut", maka harus secepatnya dicarikan solusinya.
"Pancasila oke. Pancasila yang memayungi pasal dibawah tidak bertentangan dengan agama apapun termasuk Islam," ucap dia.
Jika negara ini tidak berupaya melembagakan nilai-nilai itu, dia
khawatir anarkisme akan terus terjadi karena begitu besarnya perubahan
nilai-nilai itu sendiri.
"Saya pernah ke Bali. Disana budaya
Ngaben dan Hari Raya Nyepi telah di undang-undangkan pemerintah
setempat. Kita yang berbeda sangat menghargai kebijakan itu. Langkah
inilah yang perlu dipikirkan negara ini membuat payung hukum yang
memperkuat rasa toleransi dan kebersamaan antar suku bangsa," ucap dia.
Dalam
dialog kebangsaan yang dihadiri berbagai kalangan itu juga hadir Humas
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sulsel Ir. Hasanuddin Rasyid dan tokoh
budayawan Sulsel Ishak Ngeljaratan serta beberapa tokoh-tokoh penting
lainnya di Sulsel.
sumber: Seputarsulawesi.com
0 Komentar :
Isi Komentar :




Pengunjung hari ini : 32
Total pengunjung : 39935
Pengunjung Online: 5